Wednesday, December 14, 2016

Masya Allah!! Ternyata Sel Telur Mengelurkan Cahaya Indah Seperti Kembang Api Saat di Buahi ...

Para peneliti tercengang ketika pertama kalinya melihat rekaman pembuahan sel telur oleh sperma. Diduga, kehidupan manusia bermula sebagai kilatan cahaya seperti kembang api ketika sperma bertemu dengan sel telur.

Dalam rekaman video pembuahan, ada letupan kilat cahaya pada sel telur tepat pada saat terjadinya pembuahan. Para peneliti sudah pernah melihat fenomena ini pada hewan, tapi inilah pertama kalinya mereka melihatnya terjadi pada manusia.

Dikutip dari Telegraph pada Kamis (5/5/2016), hal ini bukan sekedar tontonan yang menarik. Karena, pada saat mulainya kehidupan baru, ukuran kilatan cahaya itu dapat dipakai sebagai penentu sel telur yang dibuahi.

Para peneliti di Northwestern University di kota Chicago mengamati bahwa beberapa sel telur bersinar lebih terang daripada sel-sel telur lainnya, dan ini menunjukkan bahwa mereka lebih berkemungkinan menghasilkan bayi yang sehat.

Temuan ini dapat membantu para dokter untuk memilih sel-sel telur terbuahi yang paling baik yang akan dipindahkan ke dalam rahim guna keperluan in vitro fertilization (IVF).

Profesor Teresa Woodruff, salah satu dari dua penulis senior dan sekaligus seorang pakar biologi rahim di Northwestern, mengatakan, “Itu luar biasa.”

“Kita mengungkapkan adanya kilatan cahaya mineral seng pada tikus 5 tahun lalu dan melihat kilatan seng seperti ini meletup dari tiap-tiap sel telur benar-benar menakjubkan.”

“Artinya, kalau kita bisa melihat kilatan cahaya pada saat pembuahan, kita bisa segera tahu sel-sel telur yang baik untuk ditransfer untuk IVF.”

Sekarang ini, sekitar 50 persen sel telur yang dibuahi tidak berkembang semestinya dan para pakar berpendapat bahwa kesalahan kode genetik menjadi penyebabnya.

Ada beberapa klinik yang merekam video sel telur yang sedang berkembang untuk mencari tahu persoalannya sejak dini, ada lagi yang memeriksa mutasi genetik. Namun demikian, prosedur ini bersifat invasif sehingga bisa merusak sel telur yang mungil itu. Kadang-kadang, tenaga klinik harus memutuskan sel telur yang terlihat paling sehat.
Ternyata, sel telur manusia mengeluarkan kilatan cahaya ketika bertemu dengan sel sperma.(Sumber Northwestern University)

Video perkembangan sel telur

Temuan baru ini memberikan indikasi tambahan bahwa sebuah sel telur sedang berkembang. Sebuah video tentang 9 sel telur yang sedang kontak dengan enzim sperma menunjukkan ada 2 sel yang berkilat lebih terang daripada yang lainnya.

“Ini merupakan temuan yang penting karena bisa memberi kita cara non-invasif dan mudah terlihat untuk memeriksa kesehatan sebuah sel telur dan embrionya sebelum ditanamkan kembali,” kata salah satu penulis, Dr. Eve Feinberg. Ia merawat pasien yang memberikan sel-sel telur dalam penelitian dasar dan juga bekerjasama dengan tim.

“Sekarang ini belum ada perangkat untuk memberitahu kita apakah selnya bermutu bagus. Kita kerap tidak mengetahui apakah sel telur atau embrionya benar-benar layak sampai mulainya kehamilan.”

“Inilah alasan mengapa temuan ini bersifat transformatif. Kalau kita memiliki kemampuan sejak awal untuk melihat apakah telurnya bagus atau tidak, maka hal itu akan membantu kita untuk mengetahui janin mana yang kita pindahkan, menghindari kebingungan dan mencapai kehamilan jauh lebih cepat.”

Selama 6 tahun terakhir, tim ini telah menunjukkan bahwa zat mineral seng mengendalikan keputusan untuk berkembang dan berubah menjadi organisme bergenetik baru seluruhnya.

Dalam percobaan ini, para peneliti menggunakan enzim sperma—bukan sperma sebenarnya—untuk menunjukkan apa yang terjadi pada saat pembuahan.

“Penelitian fluoresens mikroskopis memastikan bahwa percikan mineral seng terjadi juga pada biologi sel telur manusia, dan dapat diamati dari luar sel,” kata profesor Tom O’Halloran, salah satu penulis senior penelitian.

Dalam makalah susulan yang diterbitkan di Scientific Reports edisi 18 Maret, percikan mineral seng terlihat tepat pada saat suatu sperma memasuki sel telur tikus.

Temuan ini dilakukan oleh Nan Zhang, seorang peneliti post doktoral di Northwestern. Hanya sedikit yang diketahui tentang kejadian pada saat pembuahan, karena sulit mengamati waktu tepatnya ketika sperma masuk.

Penelitian ini diterbitkan dalam Scientifi Reports edisi 26 April.